BLOG

BLOG
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Oktober 07, 2017

Review IT (2017): Teror Badut 27 Tahun yang Lalu

Pertanyaan saya yang paling pertama adalah, sudahkah kalian menonton film IT tahun 1990 ?


Beberapa bulan yang lalu, sebelum film IT (2017) ini muncul, aku sempetin nonton film IT tahun 1990 di komputer. Menurut aku pribadi, entah karena memang itu film jadul dengan kapasitas teknologi seadanya atau bagaimana, aku ngerasa film IT tahun 1990 gak serem. Satu-satunya alasan mungkin karena itu film jadul keluaran tahun 1990 dan aku nonton itu di tahun 2017. Jelas punya kapasitas horor yang berbeda.

Setelah film IT 2017 resmi keluar di bioskop Indonesia, beberapa teman merekomendasikan film ini untuk ditonton, dan bahkan menurut beberapa ulasan yang aku liat di internet sangat menjanjikan untuk disaksikan. Cuma ya itu, aku masih terbayang film IT jadul tahun 1990 tadi. Karena alasan penasaran, akhirnya aku coba nonton film ini juga walaupun rada terlambat.

Mungkin sudah banyak yang tau tapi akan aku ulang kembali. IT adalah film adaptasi dari novel kenamaan karya Stephen King tahun 1986 dan kesuksesan novelnya pun akhirnya membawa sang badut ke layar lebar ditahun 1990. Baik film maupun novelnya ternyata sukses menyajikan hayalan yang lain dari seorang badut yang terkenal merupakan ikon yang lucu bagi anak-anak. IT mampu dengan sengaja membuat pandangan bahwa badut juga dapat menjadi sesuatu hal yang menyeramkan lewat Pennywise, bahkan tidak sedikit juga yang akhirnya takut dan trauma berlebih kepada badut.

Sinopsis

Hilangnya sang adik kesayangan, Georgie (Jackson Robert Scott), membuat Bill (Jaeden Lieberher) dengan bantuan beberapa temannya, mencoba mengungkap misteri hilangnya beberapa anak-anak di kota asal mereka, Kota Derry. Petualangan ini pun membawa mereka pada teror sang badut, Pennywise (Bill Skarsgard), yang ternyata merupakan dalang dari hilangnya beberapa warga kota. Tawa, tangis, marah, kecewa, dendam, lelucon, dan aksi ala anak-anak pun tersaji lengkap di film ini.



Sama namun tak serupa.

Mengingat film IT tahun 2017 lahir dari teknologi yang lebih modern, maka secara visual juga akan terlihat lebih baik dibanding yang terdahulunya. Dibeberapa adegan dibuat lebih menegangkan dan menyeramkan, salah satunya adalah ketika sang badut coba merasuki pikiran anak-anak untuk menjatuhkan mental mereka. 

Tidak hanya dari segi visual, dari segi cerita pun, film IT yang baru ini tidak kalah dari film jadulnya. Alur ceritanya lebih menarik, lebih rapi dan yang paling penting mampu menyajikan sesuatu yang dapat diterima untuk penonton jaman milenial seperti sekarang, walaupun film ini adalah film remake.

Film ini masih menyajikan beberapa adegan yang sangat ikonik di filmmnya terdahulu, seperti adegan berdarah di wastafel, georgie bermain perahu kertas dengan jas ujan warna kuningnya, eddie yang mengidap asma, semua masih disajikan di film ini. Membuat kita mengingat ingat kembali ke film lamanya. Menurut saya ini penting.


Walaupun sama dibeberapa adegan, film IT tahun 2017 masih tetap berbeda dari film jadulnya. Jika di film jadulnya menampilkan mereka yag sudah dewasa dengan kilas balik cerita yang membawa mereka ke masa lalu, maka di film IT tahun 2017 ini hanya menyajikan penuh petualangan mereka yang masih anak-anak. Just it, namun dari segi cerita secara garis besar masih sama.

Humor yang manis dari tiap karakter

Ada pemanis yang mampu disajikan Andres Muschietti, selaku sutradara di film ini. Ialah humor ala anak-anak yang terdengar dan terlihat sangat lucu dan bersahabat sehingga mampu membuat tawa penonton ditengah ketegangan Pennywise. Terdengar simple namun ngena. Salah satunya karakter Richie (Finn Wolfhard), salah satu sahabat Bill yang memiliki mulut paling besar dan selalu mempu mengundang gelak tawa penonton. 


Ada juga kisah romantis cinta monyet yang coba diselipkan dibeberapa adegan. Karakter Beverly (Sophia Lillis), yang merupakan satu-satunya karakter perempuan di geng, mampu menjadi primadona manis untuk 'guyonan' para sahabatnya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, film ini layak untuk ditonton buat anda yang menyukai film horor ataupun tidak. Kalian akan dibawa untuk ikut merasakan ketegangan dari teror sang badut. Selain rasa takut, kalian juga akna dibuat terhibur dengan cerita yang coba disajikan Bill dan kawan-kawan.

Rating: 8/10

Rabu, Juli 12, 2017

Review "Spider-Man Homecoming"

Akhirnya sang manusia laba-laba kembali lagi ke layar lebar terhitung mulai tanggal 5 Juli 2017 kemaren di tanah air. Tapi kenapa Spiderman ada lagi dan lagi dengan pemeran yang berganti lagi dan lagi ? Lantas apa yang menjadi pembeda Spider-Man Homecoming dari film-film Spiderman sebelumnya ?


Sinopsis

Setelah peristiwa Civil War berakhir, Peter Parker (Tom Holland) sang Spiderman diantar pulang oleh Tony Stark (Robert Downey Jr.), dan kembali ke kehidupan normalnya sebagai seorang pelajar sekolah. Meski begitu, peristiwa di Civil War sangat membekas dibenak Peter, membuatnya sangat terobsesi untuk menjadi salah satu anggota Avengers. Alih-alih ingin mendapat misi selanjutnya, Peter justru tak mendapat pesan apapun dari Tony Stark, membuat sang manusia laba-laba "hanya" bisa menjadi pahlawan lokal saja seperti menangkap pencuri sepeda ataupun sekedar membantu seorang nenek menemukan jalan.

Merasa ditinggalkan, Peter pun memutuskan ambil langkah sendiri untuk membuktikan kepada Tony Stark bahwa ia pantas diperhitungkan. Hingga pada suatu saat, Peter bertemu dengan segerombol pencuri dengan senjata api berkekuatan tinggi di sebuah ATM center. Merasa ini merupakan kasus besar, Peter pun terus memburu sekelompok pencuri yang ternyata didalangi oleh Vulture (Michael Keaton) yang akhirnya menjadi villain utama di film ini.


Obsesinya untuk membuktikan kepada Tony Stark, membuat Peter harus mengesampingkan urusannya sebagai pelajar yang cukup berprestasi di sekolah. Lalu bagaimana Peter menyeimbangkan keduanya ? Pelajar dan seorang superhero.

Review

Inilah film Spiderman pertama yang memiliki hubungan langsung dengan Marvel Cinematic Universe. Kemunculan Spiderman di film Civil War memang menjadi daya tarik sendiri bagi para penikmat film superhero Marvel, membuat kita makin tidak sabar menanti film film Marvel selanjutnya.

Mengangkat kisah anak sekolahan yang lebih kental.

Seperti kita ketahui, Tom Holland merupakan aktor ketiga yang memerankan karakter Peter Parker. Namun Spiderman versi Tom Holland memang terasa lebih fresh ketimbang versi dua pemeran sebelumnya, Tobey Maguire dan Andrew Garfield. Tobey memang masih menjadi Peter Parker favorit untuk saya pribadi. Tobey mampu membawa kehidupan kelam sang manusia laba-laba pasca ditinggal meninggal oleh sang paman. Namun Spidey versi Tobey dirasa berbeda dengan versi komik yang menggambarkan sosok Peter sebagai seorang remaja riang yang jahil dengan segala kesibukannya soal sains. Spidey versi Tobey terlalu dewasa, serius dan kelam. Kemudian muncul sosok Andrew yang jelas membawa angin baru bagi Spiderman. Andrew mampu membawa suasana anak sekolahan dan terasa lebih muda dan fun. Namun sayang, Andrew tak mampu bertahan lama berkostum Spiderman.


Hingga sosok yang lebih muda lagi datang, yaitu Tom Holland. Modal bakat akting dan ahli bela diri yang mumpuni, Tom hadir dengan membawa sosok Peter Parker yang jauh lebih muda dengan kisah anak sekolahan yang sangat terasa, membuat anda sedikit bernostalgia dengan kisah cinta monyet anak sekolah namun tak mengurangi aksi jotos jotosan ala film superhero.

Para wajah wajah baru.

Mungkin ada dari anda yang mengharapkan sosok Harry Osborn, atau minimal Gwen Stacy atau MJ sang pujaan hati Peter. Namun agaknya harapan anda ini harap disingkirkan karena Spiderman versi Tom Holland memang membawa nama nama baru dan sedikit asing untuk anda yang kurang suka membaca komik Marvel.

Muncul nama Liz Allan (Laura Harrier) yang menjadi cinta monyet bagi Peter, kemudian ada Ned (Jacob Balaton) sang sahabat yang setia mendampingi Peter dan ikut menjaga rahasianya meski terkadang terasa lucu. Namun yang cukup mencuri perhatian adalah sosok Michelle (Zendaya), sosok pelajar tertutup yang senang menyendiri namun mengambil peran yang cukup penting di film, terlebih pengakuannya diakhir film yang cukup membuat kita sedikit bertanya-tanya -saya mencoba untuk tidak spoiler-. Liz, Ned dan Michelle mampu ikut mengangkat cerita dengan menghiasi hari-hari Peter Parker sebagai seorang pelajar.


Bagaimana dengan Bibi May yang cukup mencuri perhatian saat menjadi cameo di film Civil War ? Sosok Bibi May yang biasanya dikenal sebagai sosok wanita paruh baya di film Spiderman sebelumnya, terlihat jauh lebih muda dan cantik di film ini. Sosok Bibi May pun diperankan sangat apik oleh aktris berkebangsaan Amerika, Marisa Tomei.

Untuk urusan penjahat, Vulture dipilih sebagai villain utama di film ini. Vulture sendiri juga dikenal sebagai Adrian Toomes, seorang mantan engineer dibidang elektronik yang pernah ambil bagian pada proyek perbaikan gedung Stark Tower. Sosok Vulture yang kejam namun masih terasa manusiawi diperankan sangat baik oleh aktor kawakan Michael Keaton. Akting Keaton memang sudah tidak diragukan lagi, membawakan peran Vulture mungkin mengingatkan anda dengan Birdman, peran yang juga pernah dibawakan sukses oleh Keaton sebelumnya.

Namun dari sekian banyak nama baru, ada satu nama yang memang bukan nama baru bagi Marvel Cinematic Universe namun baru kali ini muncul di film Spiderman, dialah sang miliuner Tony Stark atau Iron Man. Tak bisa dipungkiri bahwa kemunculan Iron Man di film ini merupakan bagian dari promosi, namun kemunculan sang manusia besi tak lantas mengambil alih film secara keseluruhan karena faktanya Iron Man hanya hadir sebagai pendamping dan muncul sesekali tapi punya andil besar dalam cerita.


Secara keseluruhan...

Bagi saya, film ini terbilang menjawab rasa penasaran anda setelah menyaksikan film Civil War tahun 2016 lalu. Kejutan demi kejutan anda bisa temukan di film ini, termasuk mengetahui apa saja yang bisa dilakukan oleh kostum spiderman yang baru.

Jon Watts dibangku sutradara coba menyajikan tidak hanya aksi laga belaka, melainkan juga komedi ala film Marvel yang siap membuat anda senyum simpul sendiri. Selain itu, Spiderman Homecoming juga benar-benar menyajikan problematika umum anak sekolahan seperti pesta kelulusan, naksir gadis populer hingga hukuman membolos. Semua terasa nyaman dan umum untuk disaksikan. Dari sini terlihat jika Watts memang mencoba untuk membangun kehidupan personal Peter Parker sehingga penonton dapat terhanyut didalamnya. Namun berbeda dengan film Spidey sebelumnya yang diceritakan secara detail proses seorang Peter Parker mendapat kekuatan super, di film ini Watts seakan menerka bahwa penonton sudah cukup pintar dan paham bagaimana Peter dapat menjadi Spiderman, sehingga sudah tidak perlu diceritakan ulang. Bukan masalah besar namun terasa cukup aneh mengingat Homecoming merupakan film reboot.

Namun untuk ekspektasi istimewa, saya rasa film ini masuk kategori standar. Tengok saja film solo pahlawan Marvel lain seperti Doctor Strange maupun Ant-Man, yang punya konflik lebih "wah" ketimbang Homecoming. Meski begitu, film ini tetap sangat layak untuk ditonton. Mungkin Spider-Man Homecoming hanya dibuat sebagai landasan untuk film Spider-Man selanjutnya atau bahkan film Avengers selanjutnya.

Rating 7.5/10

Minggu, Juli 02, 2017

6 Studio Film Terbesar di Dunia


Saat ini dunia perfilman di dunia semakin meningkat, membuat banyak rumah produksi berlomba-lomba menampilkan yang terbaik dan dapat diterima baik oleh kritikus film maupun masyarakat awam. Berikut merupakan lima dari sekian banyak rumah produksi paling besar di dunia.

1. Walt Disney Picture
Logo kastil dengan bintang melingkari atas bangunan dan letusan kembang api pasti sudah tidak asing lagi bagi anda. Berawal dari Walt Disney dan Roy, saudaranya, membuat Disney Brothers Cartoon Studio. Sempat berganti-ganti nama mulai dari The Walt Disney Hyperion Studio (1926), kemudian Walt Disney Productions (1929) dan hingga pada tahun 1983 mereka mengubah nama menjadi The Walt Disney Company. Perusahaan pun membagi produksi film menjadi dua unit studio, pertama adalah Walt Disney Pictures untuk studio film aksi langsung dan Walt Disney Feature Animation untuk studio film kartun.

Walt Disney Picture sendiri telah menghasilkan puluhan judul film terbaik, sebut saja Pirates of the Caribbean, Alice in Wonderland, Maleficent, hingga yang terbaru Beauty and The Beast.

2. 20th Century Fox
Tak ada satupun yang tidak mengenal musik ikonik dari rumah produksi yang telah berhasil melahirkan film seperti Star Wars, X-Men, hingga Fantastic Four dan Deadpool. Twentieth Century Fox Film Corporation merupakan anak perusahaan News Corporation. Perusahaan ini merupakan hasil penggabungan Fox Film Corporation dan Twentieth Century Pictures yang didirikan oleh Darryl F. Zanuck, Joseph Schenck, Raymond Griffith dan William Goetz tahun 1932.

Studionya sendiri terletak di California, sebelah barat Beverly Hills, Amerika Serikat. Untuk logonya pertama kali diperkenalkan di tahun 1935, dengan logo terdiri dari tiga baris yakni "20th" dengan ukuran huruf paling besar dan diikuti oleh kata "Century" dan "Fox" berurutan dibawahnya. Sementara untuk musiknya yang ikonik itu berjudul Ident dirancang oleh Alferd Newman, seorang komposer asal Amerika.

3. Universal Pictures
Rumah produksi terbesar selanjutnya adalah Universal Pictures. Perusahaan ini didirikan oleh Carl Laemmle, Mark Dintenfass, Charles O. Baumann, Adam Kessel, Pat Powers, William Swanson, David Horsley, Robert H. Cochrane dan Jules Brulatour pada tahun 1912. Berlokasi di Universal City, California, Universal Pictures merupakan bagian dari Comcast, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri komunikasi. 

Deretan film series yang berhasil diproduksi oleh studio ini diantaranya adalah series dari Fast and Furious, series Jurassic Park, series Despicable Me, series Fifty Shades hingga American Pie, Jaws dan Back to the Future. Universal Picture juga bekerjasama dengan beberapa rumah produksi seperti Walt Disney Pictures, Dreamworks dan Paramount Pictures.

4. Columbia Picture
Columbia Picture Industries Inc. merupakan perusahaan asal Amerika Serikan yang bergerak di bidang film dan acara televisi. Perusahaan ini merupakan bagian dari Columbia TriStar Motion Picture Group yang merupakan peranakan dari Sony Picture Entertainment. Sejarah awalnya ditahun 1918 perusahaan ini bernama Cohn-Brandt-Cohn Film Sales atau yang lebih dikenal dengan nama CBC Film Sales yang dikembangkan oleh dua bersaudara Harry & Jack Cohn, serta sahabat Jack, Joe Brandt. Hingga pada tahun 1924, namanya pun berubah menjadi Columbia Picture Industries Inc. 

Sempat mengalami pasang surut, akhirnya perusahaan ini pun dijual dan dibeli oleh The Coca-Cola Company tahun 1982, sebelum akhirnya dibeli kembali oleh perusahaan elektronik terbesar di Jepang, Sony, di tahun 1989. Film yang berhasil dilahirkan diantaranya series Men in Black, XXX, hingga Spider-Man, juga film-film seperti The Social Network, After Earth hingga American Hustle dan masih banyak lagi.

5. Paramount Picture Corporation
Inilah perusahaan film tertua yang terbilang masih mampu bertahan, Paramount Picture Corporation. Adolph Zukor bersama dua mitranya Daniel dan Charles Frohman, mendirikan Paramount pada bulan mei tahun 1912. Paramount sendiri merupakan perusahaan yang dimiliki oleh Viacom, sebuah konglomerat media Amerika dengan jaringan televisi kabel dan televisi  satelit di seluruh dunia yang telah melahirkan MTV dan Nickelodeon.

Sebut saja Titanic, series Transformers, series Iron Man, series Mission Impossible, Madagascar, Kung Fu Panda hingga series Star Trek pernah dihasilkan oleh perusahaan yang juga bekerjasama dengan Walt Disney Pictures dan Universal Studio ini.

6. Warner Bros Studios
Anak perusahaan dari grup Time Warner yang bermarkas di Burbank, California ini merupakan salah satu produser film dan televisi terbesar dan tertua di dunia. Pada tahun 1923, empat bersaudara yakni Albert, Sam, Harry dan Jack L. Warner mendirikan Warner Bros. Warner Bros memiliki sejumlah anak perusahaan seperti Warner Bros. Studios, Warner Bros. Pictures, Warner Bros. Television, Warner Bros. Animation, Warner Home Video, dan DC Comics.

Film-film yang sudah mereka angkat dan berhasil meraih sukses diantaranya series Harry Potter, trilogy The Dark Knight Trilogy, Batman, Mad Max, The Conjuring hingga trilogi The Hobbit.

Minggu, Mei 01, 2016

Review: "Captain America: Civil War" (2016)

Menampilkan banyak superhero dengan berbagai kekuatan super, dibungkus dengan sangat apik menjadi satu film terbaik Marvel sejauh ini.


Civil War menjadi sangat ditunggu para penggemar Marvel ditahun 2016 ini dan Marvel mampu menjawab segala rasa penasaran penonton terlebih untuk bergabungnya pahlawan terbaru mereka, Spider-Man dan Black Panther. Beda dengan Black Panther yang memang baru pertama kali muncul di layar lebar, Spider-Man telah lebih dulu hadir dengan Tobey Maguire dan Andrew Garfield sebagai aktornya, namun nama Tom Holland sebagai Peter Parker terbaru lah yang membuat penonton tak sabar untuk segera pergi ke bioskop. Selain itu, apalagi kejutan lain di Civil War ?

Sinopsis:

Pasca kehancuran kota New York dan Sokovia (difilm The Avengers sebelumnya), yang menelan banyak korban jiwa, membuat pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap pasukan Avengers yang dinilai merupakan superhero ilegal yang justru keberadaannya mengancam banyak nyawa tak bersalah. Pemerintah pun membuat sebuah regulasi perjanjian yang harus ditandatangani oleh setiap pahlawan Avengers.

Tony Stark / Iron Man (Robert Downey Jr.) yang terus dihantui oleh kematian yang diakibatkan oleh Avengers di Sokovia, menjadi yang paling depan dengan langsung menandatangani regulasi tersebut karena menurutnya keberadaan Avengers memang sangat mengancam dan perlunya diberi aturan. Namun tidak untuk Steve Rogers / Captain America (Chris Evans) yang justru menganggap perjanjian tersebut hanya akan membuat sempit ruang gerak mereka. Perbedaan ini lah yang menjadi pemicu utama para superhero terbelah menjadi dua kubu.


Regulasi perjanjian ini pun diadakan di kota Wina. Sayang, gedung yang menjadi tempat pertemuan ini pun dibom dan membuat tewasnya Raja Wakanda, T'Chaka. Rekaman yang beredar menangkap Bucky / Winter Soldier (Sebastian Stan), yang sejatinya adalah sahabat Captain America, menjadi dalang pengeboman dan langsung menjadi buronan. T'Challa / Black Panther (Chadwick Boseman) yang merupakan putra raja pun bersumpah untuk membalas dendam kematian sang ayah.

Konflik yang awalnya merupakan konflik politik dan pemerintahan berubah menjadi konflik yang lebih personal, dengan Captain America yang ingin melindungi Bucky yang buron, membuat Captain bahkan harus adu jotos dengan Iron Man. Bahkan kubu Captain yang terdiri dari Wanda, Falcon, Ant-Man, dan Hawkeye ditangkap bagaikan penjahat. Disisi lain kalian harus berhati-hati dengan seorang Helmut Zemo (Daniel Bruhl) yang akan membuat para superhero termakan dendam tak termaafkan,

Review:

Keberadaan superhero yang dianggap antara mengancam atau melindungi, kembali menjadi cerita utama film (setelah Batman v Superman: Dawn of Justice). Cerita seperti ini seakan menjawab pertanyaan nakal kita tentang, "Siapa yang harus bertanggung jawab dengan hancurnya setiap gedung setelah aksi fantastis para pahlawan fiksi ini?". Pertanyaan ini memang terkesan sepele karena film fiksi yang sedang kita bahas ini memang tak harus dipikir sejauh itu, namun apa yang dilakukan Civil War dan BvS menjadi sebuah kisah pembeda tentang film superhero yang tak melulu tetang hero yang menang melawan villain.

Bahkan jika harus membahas villain dalam film ini, mungkin Civil War (juga BvS) memiliki kisahnya tersendiri. Zemo yang notabene nya adalah penjahat utama difilm ini, membuktikan bahwa untuk menjadi penjahat tak harus memiliki kekuatan super. "Kepintaran" Zemo dalam mengadu domba setiap karakter sudah cukup baginya untuk hanya tinggal duduk manis sebagai penonton menyaksikan para pahlawan super beradu jotos. You know what, how smart he is.


Menurut saya pribadi, Civil War menjadi salah satu film yang tak memiliki cacat. Anthony Russo dan Joe Russo dibangku sutradara, sanggup menyajikan setidaknya sepuluh lebih manusia dengan kekuatan super hadir dengan porsi yang hampir merata (walaupun Captain America dan Iron Man tetap menjadi jagoan utamanya). Tokoh-tokoh sebelumnya yang terasa tak begitu penting seperti War Machine (Don Cheadle), Sam Wilson / Falcon (Antony Mackie), Wanda / Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) serta Clint / Hawkeye (Jeremy Renner) justru menjadi bintang dalam film ini, dan siap-siap kalian akan dibuat semakin jatuh hati dengan Wanda Maximoff. Setiap scene yang coba dihadirkan pada setiap detik film ini berjalan, menjadi sangat penting dan tak berakhir sebagai benalu membuat anda tak sanggup berpaling dari layar bioskop. 

Salah satu adegan terbaik jelas merupakan adegan battle semua anggota Avengers yang terbagi menjadi dua kubu saling berhadap-hadapan disebuah landasan penerbangan. Percayalah, ini merupakan battle scene superhero terbaik yang pernah anda tonton. Anda akan melihat semua superhero memperlihatkan kekuatan super mereka yang tak pernah ada di film-film Marvel sebelumnya, membuat anda terpaku dan terlihat seperti anak kecil yang sedang menonton film superhero untuk pertama kalinya. Setidaknya kalian akan melihat apa yang bisa dilakukan Ant-Man (Paul Rudd).

Bagaimana dengan Black Panther dan Spider-Man yang menjadi alasan lain penonton untuk menyaksikan aksi perdana mereka di bioskop ? 


Black Panther memang bukan tokoh utama film ini, namun kemunculannya menjadi salah satu yang ditunggu. Hadirnya sosok Black Panther dalam Civil War memang menjadi awal kisah apik pahlawan baru Marvel, dengan muncul tak terlalu menggebu-gebu namun cukup membuat ingatan manis penonton hingga penonton menjadi semakin tak sabar menyaksikan filmnya 2018 mendatang.

Sementara Spider-Man tak jauh menghiburnya dari Black Panther. Kemunculan Spider-Man memang tak sebanyak atau tak sepengaruh Black Panther, namun hadir perdananya Tom Holland sebagai Peter Parker baru yang lebih muda menjadi awal yang sempurna untuk film stand-alone-nya mendatang. Karakter Spider-Man yang kocak dan banyak omong akan menjadi hiburan tersendiri ditengah ketegangan film.

Secara keseluruhan, Civil War menjadi pembuka yang sangat baik bagi film-film Marvel selanjutnya seperti The Avengers: Infinity War, Black Panther dan Spiderman: Homecoming mendatang. Dengan durasi dua jam lebih (film Marvel terpanjang sejauh ini), Civil War tak pernah terasa membosankan disemua scene-nya. Sangat dianjurkan untuk anda bahkan yang bukan penggemar sejati kerajaan Marvel Cinematic Universe untuk menyaksikan aksi para hero ini di bioskop.


Rating: 9/10

Kamis, Maret 31, 2016

Review: Spotlight (2015)

Drama sederhana dengan kasus yang tidak sederhana.


Ketika pergelaran Oscar diselenggarakan, salah satu kategori yang paling ditunggu-tunggu adalah film terbaik. Jelas masyarakat menaruh prediksi pada The Revenant yang di bintangi calon kuat pemenang best actor, Leonardo DiCaprio. Selain The Revenant, ada Mad Max: Fury Road, The Martian serta Room yang menjadi kandidat kuat lainnya. Namun yang terjadi, Oscar justru jatuh ke tangan Spotlight. Semua masyarakat pun mulai bertanya, apa kelebihan Spotlight ?

Sinopsis

Cerita bermula ditahun 2001, dimana editor dari koran The Boston Globe, Marty Baron (Liev Schreiber) ingin mengangkat kembali kasus skandal pelecehan terhadap anak dibawah umur yang dilakukan oleh seorang pendeta di sebuah gereja di kota Boston. Marty pun menyerahkan kasus ini kepada tim jurnalis investigasi bernama Spotlight, yang terdiri dari sang editor Walter "Robby" Robinson (Michael Keaton), serta para reporter yakni Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Matt Carol (Brian d'Arcy James), dan Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams).


Sempat merasa sulit diawal, akhirnya tim Spotlight sedikit demi sedikit mulai mengungkap kasus ini. Fakta demi fakta terus mereka dapatkan, termasuk fakta mengejutkan tentang jumlah pendeta yang turut menjadi tersangka dalam kasus ini. Jumlah tersebut sempat menjadi kejutan tersendiri bagi tim Spotlight, juga bagi kita para penonton. 

Kita akan dibuat miris ketika Sacha dan Matt coba mewawancarai beberapa korban pelecehan yang saat itu telah beranjak dewasa bahkan beberapa telah berkeluarga. Bagaimana kronologis cerita di masa kelam yang mereka ceritakan seakan membuat kita yang menonton ikut hanyut merasakan betapa kejinya perbuatan para tersangka yang harusnya menjadi panutan bagi jamaah katholik, tapi justru malah menjadi mimpi buruk bagi anak-anak.

Tim Spotlight pun terus bekerjasama untuk mengangkat kasus ini ke publik sehingga masyarakat dapat membuka mata.

Review

Mungkin anda akan setuju jika saya mengatakan film ini memiliki cerita yang sangat sederhana. Sederhana disini bukan kasusnya -kasusnya sih berat banget-, melainkan tema yang diangkat dan cara film ini mencari solusinya. Meski sederhana, tapi sang sutradara, Tom McCarthy, tau betul membuat film dengan konflik yang sempit namun mampu hadir dengan sangat manis, mengingatkan saya dengan film Room.


Selain cerita yang menjadi kekuatan utama film ini, ada hal lain yang ikut menjadi nilai plus, yakni akting para pemainnya. Ada Mark Ruffalo yang sangat sangat baik memerankan Michael Rezendes, seorang reporter yang sangat ambisius. Cara Mark berbicara dan bertingkah benar-benar seperti masuk kedalam karakter Michael yang sesekali hanyut kedalam kelamnya kasus yang sedang ia tangani.

Kemudian ada aktris kawakan Rachel McAdams yang mampu memancarkan sorot mata yang seperti sangat rapuh setiap mewawancarai para korban, cukup membuat kita ikut terhanyut kedalam cerita. Sementara untuk pemain lain seperti Michael Keaton, Brian d'Arcy James, Liev Schreiber mampu memberikan porsinya masing-masing dengan sangat baik. Tapi justru yang mencuri perhatian adalah Stanley Tucci yang memerankan Mitchell Garabedian, seorang pengacara yang memiliki perawakan keras. Akting Stanley cukup memberikan warna tersendiri bagi Spotlight.


Ada dua hal penting yang harus kita perhatikan disini.

Pertama adalah bagaimana seharusnya para jurnalistik atau para awak media bertindak saat memburu berita. Disini Spotlight akan menunjukkan kepada kita secara terang-terangan proses bagaimana berita itu muncul ke publik dengan fakta yang konkrit yang tak mudah untuk didapat. Tentang bagaimana seharusnya sebuah media menyampaikan berita yang tidak hanya penuh manfaat dan pelajaran, melainkan juga dapat menjadi sebuah history yang akan selalu dikenang. Kerja keras serta selalu mengedepankan kejujuran dan keaslian berita adalah hal penting sehingga berita dapat diterima masyarakat.


Kedua adalah tentang kasusnya itu sendiri. Film ini diadaptasi dari kisah nyata sehingga memang perlu perhatian khusus terlebih menyangkut masalah agama.

Salah satu scene paling membuat miris adalah ketika salah satu karakter yang mengaku sebagai korban dan ingin mengungkap kasus ini ke publik, menceritakan fakta tentang bagaimana kehidupan keluarga katholik yang miskin atau tak harmonis akan menjadikan agama sebagai salah satu harapan dan pelarian mereka. Bagi mereka yang sangat menjunjung tinggi nilai agama, dekat dengan pendeta, akan terasa seperti dekat dengan Tuhan. Apa yang dilakukan dan dikatakan seorang pendeta, bagi mereka itu adalah hal benar, tak peduli apapun itu.

Anak-anak yang telah diajarkan sejak dini tentang bagaimana harus patuhnya kita pada agama, menjadikan mereka sangat dekat dengan pendeta, bahkan senang berdekatan dengan pendeta. Kedekatan para pendeta dengan anak-anak ini lah yang justru disalahgunakan para pelaku untuk melepaskan hasrat seksualnya. Dengan kedok agama dan status religius yang mereka miliki, dunia seakan dibuat bungkam dan tak ada satupun yang berani membeberkan ini ke publik sehingga kasus ini seakan bukan persoalan besar. Miris memang.

Secara keseluruhan, film ini sangat layak tonton mengingat tema yang diangkat adalah hal yang bukan main-main. Spotlight berbicara sangat banyak tentang apa itu arti jurnalistik dan kasus pelecehan seksual terdapat anak dibawah umur. Kasus ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi Indonesia dimana kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak kerap menghiasi laman berita. Para pelaku yang ternyata adalah orang terdekat korban memang menjadi hal yang cukup menyeramkan terlebih bagi orang tua.

Rating: 9 dari 10

Senin, Maret 28, 2016

Review: "Batman v Superman: Dawn of Justice" (2016)

Banyak komentar negatif seputar film ini, mengapa ?

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya dua jagoan dari DC hadir juga di layar lebar. "Batman v Superman: Dawn of Justice" menjawab kerinduan para pecinta komik DC dengan hadir duo superhero sekaligus. Sejak berita film ini akan keluar, para fans langsung menaruh ekspektasi besar mengingat kepopuleran Batman dan Superman di dunia komik. Namun ekspektasi besar agaknya sedikit ternoda setelah selesai menonton film ini.


Sinopsis

Film diawali dengan cuplikan singkat yang dramatis dari masa kecil Batman / Bruce Wayne (Ben Affleck) yang menjadi saksi langsung saat kedua orangtuanya ditembak mati oleh seorang penjahat. Untuk para pecinta DC pasti tau bahwa kejadian itu merupakan kejadian paling kelam untuk si manusia kelelawar, membuat sang pahlawan tumbuh menjadi sosok yang dingin dan tertutup.

Cerita berlanjut ke pertempuran singkat antara Superman / Clark Kent (Henry Cavill) dan General Zod  di Metropolis -yang merupakan potongan adegan di film Man of Steel- mengakibatkan sebuah kehancuran disana sini. Dunia pun terbelah menjadi dua golongan. Ada yang membela Superman, ada pula yang menentang adanya sang manusia besi karena dianggap sebagai ancaman karena kekuatannya. Umat manusia pun dibuat bingung tentang sosok pahlawan seperti apa yang mereka butuhkan.


Perbedaan ini membuat Batman dan Superman saling berselisih untuk menjadi pahlawan yang paling dibutuhkan. Namun penyebab utama justru datang dari psikopat, Lex Luthor (Jesse Eisenberg). Lex Luthor merupakan seorang pengusaha muda dan CEO turun temurun dari LexCorp, sekaligus merangkap sebagai penjahat dalam film ini. Selain terus mengadu domba Batman dan Superman, Lex diam-diam menciptakan monster jahat bernama Doomsday yang turut ikut menghancurkan dunia.

Review

Satu hal yang menjadi sangat disayangkan tentang film ini adalah plot cerita yang terkesan berantakan. Dengan durasi cukup panjang yakni 151 menit, Batman v Superman justru hadir dengan scene-scene pendek yang gemuk dan banyak namun muncul tak beraturan. Terlebih scene-scene ini muncul begitu cepat kemudian muncul masalah baru lagi sehingga penonton merasa aneh untuk harus menelan semua masalah yang coba disajikan. Seperti tak nyambung satu dengan yang lain, padahal terhubung.

Dengan Zack Snyder di bangku sutradara, sebetulnya film ini sangat layak tonton. Snyder yang telah lebih dahulu sukses dengan film 300 (2007) dan Watchman (2009) diharapkan dapat mengangkat dua superhero kawakan ini. Namun diluar dari plot cerita yang membingungkan, Snyder tetap membuat BvS memiliki sisi positif.

Pertama dari para pemeran yang terbilang berhasil membawakan perannya masing-masing. Ada beberapa sumber yang mengatakan jika Jesse Eisenberg yang memerankan peran antagonis Lex Luthor tak begitu berhasil, namun menurut saya justru dialah salah satu penguat film ini. Menurut saya, Jesse berhasil membawa kesan psikopat menyebalkan yang senang sekali berbicara dan mengadu domba. Tak asing memang melihat Jesse Eisenberg memerankan karakter yang banyak bicara, mengingatkan kita dengan Danny, sang pesulap jalanan yang diperankan Jesse di film Now You See Me.


Selain itu juga terdapat Ben Affleck yang aktingnya sangat ditunggu-tunggu oleh penonton. Ben yang sempat diragukan untuk memerankan karakter Batman, justru tampil sangat apik dan mampu membawa karakter Batman tanpa harus mengingat Christian Bale, sang aktor pemeran Batman sebelumnya. Banyak yang membandingkan keduanya dan mengatakan jika Ben tak sebaik Bale, namun menurut saya masih terlalu dini untuk membandingkan keduanya mengingat porsi keduanya berbeda jauh.

Bale sudah memerankan karakter Batman di trilogi film Batman sebelumnya, itu berarti sudah tiga film dilahap oleh sang aktor. Bandingkan dengan Ben yang masih baru memerankan Batman, itu pun harus berbagi scene dengan sang manusia besi, Superman. Menurut saya, ini belum bisa menjadi tolak ukur. Saya sendiri optimis ini merupakan awal yang baik bagi Ben Affleck untuk dapat terus memerankan karakter Batman di film-film selanjutnya. Bagi saya juga Ben memiliki fisik yang sangat menggambarkan Batman. Hanya satu hal yang terasa ganjil dari Batman adalah kurangnya penggambaran kostum tempur Batman. Terasa aneh saja melihat Bruce Wayne secara tiba-tiba memakai Batman war suit tanpa penekanan yang jelas.


Ada satu lagi karakter yang menjadi sangat ditunggu, khususnya oleh kaum adam, yaps Wonder Woman. Aktris cantik asal Israel, Gal Gadot lah yang berhasil mendapatkan peran wanita super yang satu ini. Gal yang awalnya sempat dipertanyakan nyatanya menjawab keraguan penonton, Gal berhasil membawa sosok Wonder Women yang memiliki perawakan wanita kuat namun masih terlihat cantik dan seksi diwaktu yang bersamaan. Harus diakui bahwa Gal Gadot menjadi magnet tersendiri bagi para penonton untuk segera ke bioskop.

Kelebihkan lain film ini terletak di visual-nya. Secara pribadi, saya lebih suka bagaimana DC menggambarkan dunia komik ke sebuah film ketimbang Marvel. Kesan gelap dan kelam ala film DC hadir sangat apik dan tepat. Terlebih saat scene final fighting antara Doomsday dengan Batman, Superman dan Wonder Woman. Jujur, saya seperti melihat lebaran-lembaran komik menjadi sebuah gambar bergerak di layar besar. Benar-benar apik dan memanjakan mata, sangat menghibur bagi pecinta komik. Belum lagi ditambah efek suara yang semakin menambah kesan mencekam dan ikut ambil adil dalam mengangkat cerita.


Bagaimana dengan sang manusia besi, Superman. Di film ini Superman benar-benar dibuat menjadi sangat galau dimana ada beberapa masyarakat yang membenci dirinya namun ada juga yang memujanya bagaikan Tuhan. Superman benar-benar coba dibuat rapuh dari dalam namun masih harus terlihat tegar dari luar. Kisah cinta antara Superman dengan sang pujaan, Lois Lane (Amy Adams) juga menjadi tontonan tersendiri di film ini. Bagaimana Lois yang selalu menjadi angin segar dari setiap permasalahan Superman.

Secara keseluruhan, Batman v Superman: Dawn of Justice cukup menjawab kerinduan para pecintanya. Untuk kalian yang siap menonton film ini, pastikan kalian telah menonton Man of Steel sebelumnya demi menghindari bingungnya konflik yang terdapat di BvS. BvS juga menjadi langkah awal bagi film-film DC lainnya seperti Justice League, terlebih untuk yang ingin mengeluarkan stand alone movie-nya seperti Wonder Woman, Aquaman hingga Green Latern.

Rating : 8 dari 10

Sabtu, Februari 27, 2016

Review: Deadpool (2016)


Akhirnya salah satu film yang paling ditunggu dan paling bikin penasaran ini hadir juga di Indonesia, Deadpool. Beberapa bulan sebelum film ini rilis, kita sudah dibuat penasaran dengan trailer dan poster-poster super kocak dari superhero yang tak mau disebut superhero ini. Dan bagaimana dengan kualitas filmnya ?

Sinopsis:

Wade Wilson (Ryan Reynolds) adalah seorang mantan pembunuh bayaran yang sukses menemukan cinta sejatinya bersama seorang wanita prostitusi yang cantik bernama Vannesa Carlysle (Morena Baccarin). Sedang indah-indahnya merasakan cinta, Wade harus menerima kenyataan bahwa ia terjangkit kanker yang ganas. Demi kesembuhan, Wade diam-diam setuju untuk jadi kelinci percobaan sebuah program bernama Weapon X -yang juga menciptakan Wolverine-.


Alih-alih ingin sembuh dari kanker, program itu justru membuat Wade menjadi seorang mutan. Juga karena program itulah, wajah Wade menjadi rusak parah dan ia enggan bertemu dengan kekasihnya, Vannesa. Untuk mengembalikan wajahnya yang tampan, Wade memburu Ajax (Ed Skrein) yang merupakan salah satu orang yang dianggap harus bertanggung jawab atas perubahan yang Wade alami. Demi menutupi wajahnya yang rusak, Wade pun mengenakkan kostum berwarna merah. Mengapa merah ? Karena menurut Wade, ia tak ingin musuh melihat ia berdarah.

Review:

Rasa penasaran publik terjawab sudah setelah film Deadpool akhirnya rilis di layar lebar dan menjadi salah satu tontonan wajib buat kalian pecinta film. Deadpool hadir tidak seperti superhero kebanyakan, ia tampil dengan format seorang manusia super yang kocak dan senang mengolok-olok musuh maupun dirinya sendiri dengan guyonan yang sedikit terdengar vulgar tapi tidak berlebihan. 


Ada hal pembeda yang disajikan karakter Deadpool dan menjadi ciri khas dirinya adalah ia yang senang menjadi pendobrak 4th wall. Maksudnya adalah ia suka berinteaksi dengan penonton. Ini ia lakukan karena ia merasa bahwa dirinya adalah seorang karakter ciptaan sebuah film atau komik -padahal memang iya-. Namun buat anda para pembaca komik Marvel, tentu sudah hapal dengan cara Deadpool berinteraksi seperti ini. Belum lagi ditambah iringan musik jadul dibeberapa adegan, membuat adegan tersebut terkesan sangat konyol dan lucu.

Hiburan lainnya adalah Deadpool yang merupakan manusia mutan yang banyak sekali berbicara, belum lagi kata-kata yang terlontar adalah kata-kata kasar namun dengan format komedi didalamnya. Dan satu lagi hal lucu yang bisa jadi hiburan tersendiri untuk para penonton adalah Wade yang sesekali menyentil film Ryan Reynolds terdahulu, Green Latern, keluaran DC yang bisa dibilang film gagal. Ups. Sorry DC, but it's real.


Walaupun komedi mendominasi film ini, namun penonton masih bisa merasakan dengan baik tragedi yang dialami oleh Wade Wilson, termasuk saat ia harus menghadapi mukanya yang rusak dan tak berani bertemu kekasihnya. Memang film ini menyajika konflik yang terkesan pribadi, bukan seperti film superhero lain yang mengusung tema keselamatan dunia. Namun meski begitu, Tim Miller, selaku sutradara paham betul menyajikan film yang bahkan dengan budget kecil -untuk sebuah film superhero- dan konflik yang sempit, tapi bisa hadir dengan formula yang dapat diterima masyarakat.

Sayangnya tokoh antagonis, Ajax, yang diperankan aktor Ed Skrein, tak dibuat mengancam walaupun ia adalah ancaman Deadpool di film ini. Duel Ajax dan Deadpool diakhir film juga terkesan sangat cepat dan tiba-tiba sudah selesai. Memang sangat disayangkan menginagat Ajax merupakan musuh terbesar Deadpool di dalam versi komiknya.


Secara keseluruhan film ini mampu membayar uang yang dikeluarkan para penonton untuk tiket bioskop, untuk yang kecewa dan kurang menyukai ide cerita setidaknya film ini bisa membayar rasa penasaran anda. Buat saya pribadi, film ini termasuk film layak tonton karena menyajikan tidak hanya tentang seseorang yang mempunyai kekuatan super yang kerjaannya berkelahi sana-sini tapi mampu juga menghasilkan drama dan komedi yang seimbang. Deadpool bisa dibilang menjadi film yang mampu mendobrak film superhero kebanyakan.

Namun harus diperhatikan untuk anda para orang tua, bahwa film ini tak dianjurkan untuk anak dibawah umur karena mengandung beberapa adegan panas, kata-kata kotor hingga kekerasan.

Kamis, Januari 07, 2016

Review: Pay the Ghost (2015)

Ketika kita harus membayar orang yang kita sayang kepada hantu.


Satu lagi film yang membawa Nicolas Cage sebagai bintang utamanya, Pay the Ghost. Namun besarnya nama seorang Nicolas Cage seakan tak terasa lagi bahkan ketika film ini keluar. Mengapa ?

Sinopsis

Pada awal film, kita sudah dibuat penasaran dengan tayangan singkat ber-setting tahun 1679 tentang tiga anak kecil yang sedang bersembunyi diruang bawah tanah rumah mereka. Rasa tegang semakin terasa ketika salah satu anak tadi memanggil sang ibu yang terdengar sedang disakiti oleh seseorang, saat itu pula seseorang mengetahui tempat persembunyian ketiga anak tadi. Udah.

Ratusan tahun berlalu, cerita membawa kita pada keluarga kecil Lawford yang tinggal di kota New York. Sang ayah, Mike Lawford (Nicolas Cage) adalah seorang profesor di sebuah Universitas setempat. Mike sangat mencintai pekerjaannya sehingga membuatnya hanya memiliki sedikit waktu untuk istrinya, Kristen Lawford (Sarah Wayne Callies), dan anak semata wayang mereka, Charlie (Jack Fulton).


Pada malam Halloween, Mike yang sudah kepalang janji dengan Charlie, menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersama sang anak kesayangan. Saat pergi ke sebuah festival halloween didekat rumah mereka dan hendak membeli ice cream, tiba-tiba Charlie mengajukan pertanyaan, "Dad, can we pay the ghost?". Mendengar pertanyaan sang anak, Mike pun tak terlalu menggubris dan akan segera membayar ice cream. Namun betapa terkejutnya Mike ketika mengetahui bahwa Charlie lepas dari genggamannya dan hilang begitu saja.

Satu tahun berlalu tepat tiga hari sebelum halloween, Mike masih terus berusaha mencari Charlie dengan menyebar beberapa brosur dan terus rajin bolak-baik kantor polisi untuk mendapat berita ter-update tentang sang anak. Namun sayang, saat itu Mike dan Kristen harus pisah ranjang dikarenakan Kristen sangat terpukul dengan hilangnya Charlie dan terus menyalahkan sang suami. Terlepas dari itu, hari-hari menjelang halloween memaksa Mike dan Kristen dihantui oleh bayang-bayang sang anak yang seakan ingin memberi petunjuk tentang keberadaannya. 


Merasa ada yang tak beres, Mike pun berusaha mengungkap apa maksud dari ini semua, termasuk maksud dari ucapan sang anak sebelum menghilang. Setelah mencari beberapa informasi, Mike mendapat data bahwa ternyata ada setidaknya tiga anak menghilang setiap malam halloween. Tak terlalu mengejutkan bahwa hilangnya Charlie dan beberapa anak di malam halloween, berkaitan dengan cerita ditahun 1679 yang muncul diawal cerita tadi. 

Review

Saat pertama kali melihat trailer film ini di youtube, saya seakan dihipnotis untuk menonton terlebih dengan hadirnya nama Nicolas Cage didalamnya. Maksudnya, siapa sih yang tak kenal dengan peraih Oscar ditahun 1995 ini. Ya, Cage adalah salah satu aktor besar di industri perfilman Hollywood, setidaknya kalian bisa lihat dari jejeran judul film yang pernah ia bintangi. Namun kehidupan layaknya roda yang berputar, kadang diatas kadang dibawah, dan Cage mungkin sedang berada dibawah.

Setidaknya lima tahun belakangan ini, sang aktor seperti sedang kejar setoran dengan membintangi banyak judul film namun semua bisa dibilang film yang ala kadarnya. Film-film tadi membuat pamor seorang Nicolas Cage jadi memburuk. Sayang memang, namun inilah yang terjadi.


Penampilan Cage di film ini memang tidak buruk namun juga tak terlalu baik. Mungkin Nicolas Cage ini adalah tipe aktor yang bagus jika mendapat materi yang bagus pula. Namum kasus pada Pay the Ghost, membuat Cage seperti tampil apa adanya sesuai kapasitas naskah yang ditulis oleh Dan Kay. Sayang banget loh Om Nic.

Namun berbicara secara keseluruhan, Pay the Ghost memang tak bisa berbicara banyak. Tema horor yang diusung seperti cerita horor kebanyakan. Oke kita bedah satu persatu, anak kecil melihat penampakan yang tak bisa dilihat orang lain, lalu sang anak menggambar sosok menyeramkan, burung yang tiba-tiba muncul tanpa alasan, seseorang kerasukan, paranormal datang, cerita klasik tentang iblis dan para pengikutnya, dendam hantu yang berkepanjangan, lalu pada akhirnya datang kedunia lain dan menolong seseorang keluar. 

Datang ke dunia lain dan menolong seseorang keluar ? Tidak kah anda teringat dengan film lain yang juga mengusung tema serupa ? Yaps, we talk about Insidious. Namun jangan coba bandingkan keduanya, karena Pay the Ghost jelas jauh dari kata lebih baik. Satu lagi yang mengganjal dari film ini adalah judul film itu sediri, "membayar hantu". Saya sendiri juga tidak mengerti dengan arti "membayar" pada film ini. Satu-satunya yang bisa saya simpulkan mungkin lebih kearah "dendam". 


Film ini sebenarnya cukup meyakinkan pada awal mulainya dengan menghadirkan cerita singkat mengundang tanda tanya dan rasa penasaran yang besar. Namun yang disajikan Uli Edel selaku sutradara pada ending cerita terasa sia-sia. Maksudnya begini, film ini memang tau bahwa para penonton menginginkan cerita yang berakhir bahagia atau happy ending, namun akan terasa hambar jika happy ending tapi tak dibungkus dengan baik. Hasilnya, kita keluar bioskop dengan tanpa membawa apa-apa.

Dari sederet kejanggalan film ini, setidaknya Uli Edel masih mampu menghadirkan sisi positifnya. Ialah kemunculan hantu yang muncul cukup menakutkan dan mengagetkan. Walaupun layaknya penonton film horor kelas wahid, kita seperti sudah tau kapan sang dedemit akan nongol namun tetap saja kita akan dibuat kaget karenanya.

Overall, Pay the Ghost merupakan film horor yang masih kurang energi dan mungkin masih bisa dibuat lebih dari ini atau dengan kata lain, kurang maksimal. Bahkan untuk ukuran film horor kelas B juga masih kurang meyakinkan. Namun yang lebih disayangkannya lagi adalah Pay the Ghost hanya akan melengkapi film-film gagal seorang Nicolas Cage. Please get better, Uncle Nic,

Selasa, Desember 22, 2015

Review: 'Star Wars: The Force Awakens' (2015)


Sebelum membahas lebih jauh, ada satu pertanyaan yang kerap diajukan oleh mereka -termasuk saya- yang bukan pengikut setia film ini atau bahkan belum pernah menonton enam film Star Wars sebelumnya, adalah, apakah film ini bisa kita nikmati ? Jawabannya, ya bisa, sangat bisa.

Jujur, saya bukan termasuk fans fanatik film legendaris yang satu ini. Bahkan ketika pacar mengajak saya menonton film ini, saya masih sempat membanding-bandingkan apakah saya mau menonton film ini atau film 'Bulan Terbelah di Langit Amerika'. Bukan bermaksud membandingkan film ini dengan film Indonesia yang saya sebutkan tadi, tapi entah virus dari mana yang membuat saya beranggapan bahwa film ini sangat wajib tonton. Walaupun ya tadi, saya bukan fans setia Star Wars.

Menunggu antrian yang cukup panjang membuat saya semakin yakin akan menonton film ini, mengingat nama besar film ini menjadi magnet tersendiri buat kita para penikmat film. Dan ketika saya keluar dari bioskop, saya bisa berkomentar bahwa, 'apakah masih ada slot kosong untuk penggemar star wars buat saya?'


Sinopsis

Alkisah dimulai dengan kenyataan bahwa alam semesta beserta galaksi dan planet-planet didalamnya kembali dikuasai oleh kegelapan dan kejahatan. Tidak lain dan tidak bukan dalangnya ialah para kelompok hitam First Order yang dipimpin oleh Kylo Ren (Adam Driver). Kaum Jedi pun menghilang, termasuk Jedi terakhir, Luke Skywalker (Mark Hamill). Keberadaan Luke sangat dicari baik oleh kubu antagonis First Order maupun buku protagonis para pemberontak atau Resistance.

Poe Dameron (Oscar Isaac), pilot tangkas dari kubu Resistance memiliki potongan peta yang mengarah pada keberadaan Luke. Demi keamanan, peta tersebut ia simpan pada robot droidnya yang lucu, BB-8. Ditempat lain, planet tandus bernama Jakku membawa kisah seorang gadis cantik penjual besi bekas rongsokan bernama Rey (Daisy Ridley) yang lincah dan berani. Takdir mempertemukan ia dengan Finn (John Boyega) yang merupakan seorang stromtrooper dari First Order yang telah bertobat. Keduanya lantas bahu-membahu melindungi BB-8 beserta peta didalamnya dari tangan-tangan usil kaum First Order.


Review

Kelebihan seorang J.J. Abrams selaku sutradara merangkap produser dan penulis ini adalah mampu menciptakan interaksi yang menyenangkan antar para pemain sehingga mampu menghasilkan suasana yang bergairah dan hidup. Nama seperti Daisy Ridley maupun John Boyega yang menjadi tokoh utama mungkin masih asing di telinga anda, tapi akting keduanya terasa sangat kuat dan natural sehingga menghasilkan eksekusi kisah yang luar biasa. Terlebih untuk Nona Ridley yang terlihat terlalu cantik untuk ukuran pemulung rongsokan barang bekas. Angin segar buat penonton pria nih.

Karakter selanjutnya yang menjadi sorotan adalah sang villain, Kylo Ren. Sosok Kylo Ren memang pasti akan dibanding-bandingkan dengan sesepuhnya, Darth Vader. Terlepas dari sosok Vader yang sangat ikonik, Kylo Ren hadir dengan cerita dan motif yang lebih kuat, lebih emosional, dan lebih personal. Posisinya bukan untuk mengganti sosok Vader, Kylo Ren hadir sebagai tokoh antagonis dengan daya tarik yang berbeda,dan pastinya masih dengan lightsaber merah kebanggannya.


Kemudian kita akan dihadapkan pada karakter-karakter lawas seperti Han Solo dan Putri Leia, dimana interaksi keduanya masih enak untuk dilihat. Han Solo yang selalu ditemani Chewbacca, hadir dengan sosok yang lebih tua lengkap dengan dialog-dialog yang singkat namun tajam. Sementara Luke ? Anda cari tau sendiri dengan menonton film ini. Tak bisa dipungkiri bahwa kekuatan film ini terletak pada karakter-karakter yang terlibat didalamnya. Interaksi setiap karakternya terasa sangat hidup dan alami. Belum lagi sentuhan komedi ringan yang terselip di beberapa dialog dan adegan yang cukup menghibur penonton dan mengusir ketegangan sementara.

Tak lengkap rasanya jika tak membahas sinematografi dan desain film sekelas Star Wars. Dan Mindel sang sinematografer mengaku jika ia bersikeras untuk mengedepankan practical model ketimbang CGI untuk menghadirkan objek seperti kapal, pesawat hingga markas komando. Belum lagi pengambilan gambar latar belakang seperti laut, gunung es, hutan dan padang pasir yang keren. Sementara dari sisi tata suara juga tak kalah keren. Suara ledakan hingga suara khas dengung lightsaber berhasil menggetarkan bioskop. Dan tentunya suara themesong Star Wars yang sangat ikonik itu mampu menambah kesan 'wah' film ini.


Film ini hadir dalam format 3D dan kebetulan saya tertarik mencoba IMAX-nya. Sebenarnya tak terlalu dianjurkan menonton dalam format 3D, hanya saja jika anda mengharapkan visualisasi dan suara yang lebih, IMAX bisa jadi pilihan yang tak merugi. Saya juga gak merasa rugi setelah nonton IMAX, wong dibayarin pacar haha. 

Dan pada akhirnya, film 'Star Wars: The Force Awakens' menjawab kerinduan para penggemar setianya dan menghibur para penonton awamnya seperti saya ini. Harus diakui bahwa J.J. Abrams sangat berhasil membawa nostalgia itu dengan kemasan yang lebih menarik tentunya. The Force Awakens adalah kisah yang bisa jadi menjadi magnet bagi para generasi baru untuk ikut mencintai film yang pertama kali rilis tahun 1977 ini. J.J. Abrams memang membuktikan bahwa ia adalah penggemar setia Star Wars.

Kamis, Desember 17, 2015

Review: Point Break (2015)

Bagi anda dan juga saya para generasi muda, bersiaplah dengan film yang sempat sukses ditahun 1991, Point Break.


Sinopsis:

Kisah diawali dengan aksi dua remaja, yakni Johnny Utah (Luke Bracey) dan Jeff yang sedang mengendarai motorcross di tebing yang cukup curam. Sayang, Jeff menemui ajalnya disini karena terjatuh. Merasa sangat menyesal atas kematian sahabatnya, Utah pun meninggalkan hobinya pada olahraga ekstrim dan ingin mengabdikan diri menjadi agen FBI.

Tujuh tahun berselang, Utah berhasil menjadi bagian dari FBI. Utah pun ditugaskan untuk memata-matai sebuah aksi kejahatan yang cukup unik, dimana kelompok penjahat ini mencuri uang namun uangnya dibagikan demi membantu masyarakat di beberapa belahan dunia. Setelah ditelusuri ternyata kelompok penjahat ini merupakan para penggila olahraga ekstrim.


Bodhi (Edgar Ramirez) yang merupakan ketua kelompok penjahat ini mengaku bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah tindakan kiminal karena tidak memiliki kepentingan layaknya pelaku kriminal lain. Bodhi cs hanya melakukan sebuah ritual yang mereka sebut delapan ritual Ozaki Ono. Ritual ini mengajarkan kepada para pengikutnya untuk mencintai alam dengan melakukan delapan aksi ekstrim yang berhubungan dengan alam.

Tapi alih-alih ingin mengembalikan keseimbangan alam, kelompok ini justru dianggap sebagai kriminal karena merugikan banyak pihak. Utah yang terjun langsung ke TKP seakan teringat kepada kebiasaan lamanya pada olahraga ekstrim ini. Sempat terlena, Utah dihadapkan pada dua pilihan, persahabatan atau pekerjaan. Utah sangat berhutang budi kepada Bodhi yang telah menyelamatkan hidupnya, namun disisi lain Utah harus konsen sebagai agen FBI yang ditugaskan untuk mengungkap kasus ini.

Review:

Point Break merupakan film remake dimana film ini sebelumnya telah terlebih dahulu sukses ditahun 1991 dengan judul yang sama. Kala itu tokoh Utah diperankan oleh Keanu Reeves dan Bodhi diperankan Patrick Swayze. Bagi generasi 1990-an, Point Break menjadi salah satu film asik yang lahir kala itu. Membawa kembali film ini ditahun 2015 memang terasa sangat pas. 


Penonton pada era sekarang memang tidak asing dengan kisah seperti ini. Kisah seorang polisi yang menyeludup sebagai mata-mata kasus kriminalitas seperti pada Point Break, mungkin mengingatkan kita pada salah satu film franchise tersukses pada era sekarang, yakni Fast and Furious. Kisah Brian O'Conner yang diperankan mendiang Paul Walker merupakan cerminan dari Johnny Utah, sementara sang ketua geng Dom Toretto yang diperankan Vin Diesel adalah gambaran Bodhi. Latar belakang kisah juga sama-sama mengusung olahraga ekstrim.

Terlepas dari itu, kita patut acungi jempol dari aksi yang dihadirkan pada Point Break kali ini. Ericson Core yang merupakan sutradara merangkap sinematografer ini mampu menghadirkan aksi-aksi yang memukau dan terbilang memuaskan. Point Break merekrut banyak stuntman demi aksi-aksi berbahaya disepanjang film, mulai dari terjun payug, meluncur di gunung es, memanjat tebing hingga berselancar di ombak besar.


Sementara para aktor yang berperan juga terasa sangat natural, walaupun beberapa adegan digantikan oleh stuntman. Luke Bracey sang pemeran utama tampil sangat enerjik, muda dan mampu menghidupkan kesan menegangkan dan berbahaya.

Untuk anda para pecinta alam dan olahraga ekstrim, nampaknya film ini sangat cocok anda saksikan. Pasalnya, disepanjang film anda akan dimanjakan dengan spot-spot pemandangan yang indah dan menawan dari berbagai negara seperti US, Perancis, Austria, Swiss, Itali, Kanada hingga Venezuela.


Bisa dibilang film ini sangat menonjolkan sisi visual ketimbang alur cerita yang mungkin terbilang standar. Tapi sekali lagi, film ini merupakan film remake yang memang mengikuti film pertamanya namun dikemas lebih luas dan lebih modern. Secara keseluruhan film ini sukses membuat kita memacu adrenaline.